Sneaking window pada KDE4
Saya sempat melihat teman saya menggunakan windows 7 pada PCnya…(ya bajakanlah). Ya sempat ngelihat lihat bagian mana yang menarik dari seven.
Salah satu fitur yang saya suka dari seven adalah bagaimana seven menampilkan program list pada taskbarnya. Tampilannya kotak kecil, dan ketika mouse kita menghover di atas salah satu task list item, taskbarnya akan menampilkan window thumbnail dari aplikasi yang bersangkutan. Kemudian ketika kita menghover mouse pada salah satu thumbnail yang ditampilkan, akan di perlihatkan kepada user window aplikasi tersebut, sedangkan window aplikasi lain akan di kaburkan tampilannya.
Hmmm…iri juga…jadi gimana ya caranya saya bisa mendapatkan fitur itu pada KDE 4? Setelah lama bermeditasi (walaaah), akhirnya tahu juga (lama banget…)
Kapan bisa kayak gini?
Ketika asik-asik surfing, ketemu deh ma blognya eric ross, salah satu developer KDE. Nah, disalah satu artikelnya, dia menunjukkan sebuah video yang berisi tentang kegiatan ngehack amaroknya.
Satu kata: GILAAAAAAAAAAAAAA
Kapan aq bisa kayak gitu? Garap PKL aja lama. Masih muter-muter di desain systemnya. Hiks…
Perjalanan masih panjang….
kalo mau lihat videonya, lihat disini:
SilsilahQ: a fun project
Berawal dari bincang-bincang dengan keluarga saat lebaran kemarin, muncullah dorongan untuk membuat sebuah aplikasi silisilah keluarga. Akhirnya, saya dan seorang teman yang baru saja lulus kuliah sepakat untuk membuat aplikasi ini dengan nama SilsilahQ.
Hmm…ya tujuannya sederhana sih, menampilkan pohon keluarga mulai dari yang paling tua….(sampek nabi Adam ya?) ampe yang paling muda. Aplikasi ini akan dikembangkan menggunakan Qt 4.
Tapi jujur aja, saya masih belum ada gambaran pasti mengenai bentuk dan rancangannya. Maunya sih membuat dulu rancangan systemnya. Jadi kalo gini harusnya membuat perencanaan tahapan requirement, analysis ampe tahapan testing. Tapi berhubung masih garap PKL, yah semalam hanya sempat bikin rencana GUI nya.
Penyakit disembuhkan oleh Tuhan, bukan Dokter…benarkah?
Sebelumnya, saya ucapkan Mohon Maaf Lahir dan Batin. Telat ya? Ya maklum, baru konek ke internet sekarang.
Nah cerita ini bermula ketika saya mendengarkan sebuah khotbah pada salat Id kemarin. Si khotib (secara garis besar) menyatakan bahwa yang menyembuhkan penyakit kita itu adalah Allah, bukan dokter.
Pertanyaannya, benarkah ini? Jika ia, dokter di sini sebagai apa? Apakah hanya sebagai media bagi proses penyembuhan manusia? Dalam artian bahwa Allah memerlukan seorang dokter untuk menyembuhkan makhluknya sendiri? (Sungguh Allah tiddaklah seperti itu). Ataukah bahwa pernyataan ini salah?
Menurut saya jawabannya ada dua, iya dan tidak. Tergantung kita melihat pertanyaan ini dan mencoba menjawabnya dari sisi bagaimana.
Dunia kita itu aneh tapi nyata
Mau tau hal-hal yang aneh tapi nyata? Gambar, barang, ya segala hal yang bisa dikatakan sebagai ‘hal’ yang bener-bener unik….lihat aja di halaman ini:
Instalasi KDE pada ArchLinux
Archlinux adalah distro yang berbeda dengan distro linux lain yang populer bagi kebanyakan pengguna linux. Jika distro lain sudah menyertakan konfigurasi otomatis terhadap system, Archlinux memberi kebebasan dan keleluasaan bagi user untuk mengatur sendiri konfigurasinya.
Archlinux juga berbeda dengan distro populer seperti ubuntu, fedora, openSuse, dan mandriva. Jika pada distro tadi, user diberi pilihan untuk menentukan Desktop Environment sebelum instalasi, pada Archlinux, user mendapatkan Environment minimum. Jadi Desktop Environment seperti KDE dan GNOME perlu untuk di instal secara manual.
Dalam artikel ini, saya akan menuliskan langkah-langkah yang saya lakukan dalam menginstal KDE ke dalam system Acrhlinux. Tapi sebelum melangkah jauh, belum tentu langkah dan segala macam konfigurasi yang saya lakukan adalah benar dan akan berjalan di system anda. Read more…
A Happy Arch Linux User
Setelah mengalami kekecewaan mengupgrade kubuntu KDE 4.2.4 ke KDE 4.3, hati akhirnya memutuskan untuk berpindah dari dunia ubuntu. Dalam pencarian di hutan rimba distro linux, hati akhirnya memutuskan untuk mencoba Arch Linux.
Ok…jujur aja sempat deg-degan saat sebelum menginstall distro ini. Karena ketika saya membaca review dari mereka yang sudah menggunakan arch, proses instalasinya tidak semudah ubuntu dan distro lain yang tinggal klik-klik-klik.
So…setelah mengunduh archlinux versi 2009.2, proses instalasi dimulai. Mungkin agak sedikit tertolong oleh kebiasaan saya menggunakan konsole selama di kubuntu dan sering nguprak aprik apa pun yang berbentuk text pada directory “/”, maka proses instalasinya tidak terlalu bermasalah.
Tetapi permasalahan muncul ketika saya hendak mensettup KDE. Karena proses download package KDE yang lumayan lama, jadi saya titipkan laptop saya di kontrakan teman, dan saya biarkan laptop melanjutkan kerjaannya mengunduh KDE. Namun keesokannya, saya temukan proses download KDE terputus dan file inittab dinyatakan hilang. Waduh…repot.
Akhirnya saya instal ulang. Dan kali ini haram hukumnya meninggalkan laptop. Jadi…blada blidi bludu bledo.. akhirnya saya berhasil mensettup KDE pada Arch linux. Dan dalam proses ini saya mendapatkan banyak pelajaran mengenai beberapa konfigurasi dasar dalam linux.
Tapi belum bisa puas dulu, masih harus masang networkmanager, alsa, samba, kdm dan seterusnya.
Akhirnya butuh waktu 2 hari untuk mensettup Arch Linux menjadi layak untuk digunakan seterusnya. And untuk saat ini, I luv Arch Linux.
Ini tampilan Arch Linux dengan KDE 4.3
Dibandingkan dengan kubuntu yang saya gunakan sebelumnya, Arch Linux hanya menggunakan 97 Mb ram pada awal session. Booting proses pun hanya memakan waktu 18 detik. Tidak jauh berbeda dengan kubuntu.
Namun sejujurnya yang saya rindukan dari kubuntu adalah synaptic package managernya. Di Arch Linux ada sih GUI package manager bernama SHAMAN. Namun hingga saat ini saya memperoleh banyak permasalahan. Akhirnya saya gunakan saja konsole.
Tetapi secara keseluruhan, Im a happy Arch Linux user.
Beberapa minggu yang lalu, di tv sangat gencar sekali pemberitaan mengenai kemungkinan kedatangan miyabi ke Indonesia dalam rangka menjadi pemain film “menculik miyabi”. Terutama yang sangat sering menayangkan pemberitaan ini adalah pihak infotainment.
Perjalanan pemberantasan korupsi bukanlah perjalan yang mudah di negeri ini. Korupsi sudah menjadi kultur di institusi pemerintahan maupun swasta Indonesia. Bagaimana tidak? Korupsi sudah mewujud ke dalam kegiatan yang secara kasat mata memang tidak tampak seperti mencuri uang negara.
OK…AIDS adalah masalah kemanusiaan. Sudah banyak pihak yang mengusung perubahan pada masyarakat agar mereka mampu berhati-hati demi terhindar dari penyakit ini.